J-PAL Meluncurkan Inisiatif Inovasi Keuangan Inklusif di Asia Tenggara

Posted on:
Authors:
Samantha Carter
digital finance
Photo: J-PAL

Read this post in English.

Nilai ekonomi digital Indonesia tercatat mencapai USD 40 miliar pada tahun 2019 – empat kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 2015. Pertumbuhan yang pesat ini sebagian besar didorong oleh sektor niaga-el (e-commerce) yang tumbuh sebesar 88 persen, dari USD 1.7 miliar pada tahun 2015 menjadi USD 21 miliar di tahun 2019. 

Sektor layanan keuangan digital merupakan salah satu sektor yang tumbuh paling cepat: total jumlah perusahaan teknologi finansial (tekfin) bertambah hingga lebih dari dua kali lipat dengan total 130 perusahaan pada tahun 2017 menjadi 320 di tahun 2019. Disamping pertumbuhan yang pesat di sektor swasta, Pemerintah Indonesia juga tengah meningkatkan penggunaan tekfin untuk distribusi bantuan sosial. 

J-PAL Asia Tenggara (J-PAL SEA), yang bernaung di bawah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, saat ini meluncurkan Inisiatif Inovasi Keuangan Inklusif untuk membantu menjawab dan memberikan solusi atas isu-isu kebijakan dan nonkebijakan terkait pemanfaatan tekfin untuk mendorong inklusi keuangan. Dengan dukungan dari Bill and Melinda Gates Foundation, inisiatif berdurasi tiga tahun ini bertujuan untuk memastikan tekfin dapat meningkatkan pembangunan ekonomi melalui pemberdayaan perempuan, masyarakat berpendapatan rendah, dan komunitas yang terpinggirkan.

Walaupun pertumbuhan niaga-el dan tekfin memiliki peluang yang menjanjikan untuk meningkatkan inklusi keuangan, penggunaan tekfin masih didominasi kelompok masyarakat berusia muda, hidup di perkotaan, dan berpendapatan tinggi. Seiring dengan perkembangan teknologi serta biaya penyelenggaraan tekfin yang semakin murah, peluang semakin terbuka lebar untuk meningkatkan cakupan dari penetrasi dan pemanfaatan tekfin sebagai instrumen untuk mendorong inklusi keuangan.

Inisiatif Inovasi Keuangan Inklusif ini akan dibangun berdasarkan bukti-bukti yang ada dari penjuru dunia untuk memahami bagaimana tekfin dapat dimanfaatkan dalam konteks akselerasi inklusi keuangan dan pembangunan ekonomi.

Inisiatif ini mencakup tiga alur kerja yang saling berkaitan untuk menyediakan bukti sebagai basis kebijakan kepada stakeholder tekfin di Indonesia, baik pembuat kebijakan, praktisi, maupun lembaga nirlaba:

1. Penelitian dan analisis kebijakan: Melalui Inisiatif ini, peneliti dan staf J-PAL akan melakukan tinjauan pustaka (literature review) terkait bukti-bukti yang ada dari seluruh dunia. Hal ini dilakukan untuk menawarkan beberapa rekomendasi kebijakan yang berbasis bukti terkait pemanfaatan tekfin untuk optimalisasi pelaksaan program bantuan sosial pemerintah dan pemberdayaan kelompok masyarakat marginal, serta mengidentifikasi knowledge gap dimana penelitian baru dapat menjawab isu-isu kebijakan dan nonkebijakan yang ada dalam sektor tekfin di Indonesia.

2. Menciptakan Learning Collaborative: Dalam rangka mendorong kolaborasi, Inisiatif ini akan mengembangkan wadah komunikasi dan pertukaran ide untuk pemangku kebijakan di bidang tekfin dan inklusi keuangan di Indonesia. Sehingga pihak-pihak tersebut dapat bertemu, berbagi pengalaman, serta bersama-sama dapat menyusun strategi untuk menjawab dan mencarikan solusi atas permasalahan/isu bersama.

3. Kolaborasi penelitian: Inisiatif ini bermaksud untuk mengembangkan sejumlah studi percontohan (pilot studies) dan evaluasi acak (randomized evaluation) untuk menjawab pertanyaan atau isu kebijakan yang relevan. Kolaborasi kemitraan dengan pemangku kebijakan terkait (pemerintah, industri, atau organisasi donor) akan dibentuk untuk memastikan bahwa bukti yang dihasilkan oleh studi-studi tersebut dapat berkontribusi secara langsung dalam penyusunan kebijakan.

Mengapa fokus pada keuangan inklusif?

Produk dan layanan keuangan dirancang untuk membantu meningkatkan kemampuan individu dalam memanfaatkan peluang ekonomi dan membangun ketahanan ekonomi. Selain itu, produk dan layanan keuangan dianggap sebagai instrumen penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan mobilitas ekonomi rumah tangga.

Bukti empiris yang ada menunjukkan bahwa peningkatan akses kepada akun tabungan memiliki dampak positif terhadap kesejahteraan rumah tangga dan bahwa layanan keuangan digital seperti mobile money dapat memberikan manfaat yang signifikan. Sebagai contoh, studi di Chili dan Kenya menemukan bukti bahwa akses terhadap akun bank dapat membantu rumah tangga dalam mengatur pendapatan, meningkatkan investasi bisnis, dan meningkatkan tingkat pengeluaran pribadi. Sementara itu, menawarkan akun tabungan bank berbasis seluler kepada orang tua di Kenya yang memiliki anak remaja, dapat meningkatkan tingkat pendaftaran sekolah berjenjang menengah keatas sebesar 5-6 poin persentase (percentage point).

Tekfin juga dapat menjadi alat untuk meningkatkan pemberdayaan dan partisipasi ekonomi perempuan.

Sebagai contoh, sebuah studi di India menemukan bahwa pendapatan dari bantuan tunai pemerintah yang disalurkan ke akun bank perempuan (dan bukan akun tabungan rumah tangga/gabungan) dan disertai dengan pelatihan keuangan dasar, dapat meningkatkan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, termasuk di sektor swasta. Dampak ini terutama terjadi pada perempuan yang memiliki suami yang menentang perempuan untuk bekerja.

Ketika krisis pangan 2009-2010 terjadi di Niger, distribusi program transfer uang melalui mobile money dapat meningkatkan diversifikasi bahan makanan yang dikonsumsi, relatif dibandingkan dengan transfer uang konvensional. Perempuan yang menerima transfer melalui ponsel seluler cenderung pergi ke pasar lebih sering dalam seminggu, terlibat dalam penjualan biji-bijian produksi rumahan, dan mengeluarkan uang lebih banyak untuk pakaian anak dibandingkan dengan kelompok lainnya.

Mengapa fokus pada Indonesia? 

Penyedia jasa tekfin di Indonesia saat ini tengah berupaya untuk mengembangkan inovasi berbasis teknologi untuk meningkatkan inklusi keuangan bagi rumah tangga di daerah dengan akses kepada bank yang terbatas. Sebagai contoh, dengan adanya teknologi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi memiliki akses terhadap layanan pembayaran digital yang dirancang untuk meningkatkan transaksi, memperbaiki pencatatan keuangan, dan skor kredit.

Model arisan, juga memiliki peluang untuk memanfaatkan teknologi digital melalui layanan MAPAN. Arisan digital dapat memfasilitasi pembelian barang dari internet secara kolektif tanpa mengganggu keuangan rumah tangga.

Selain itu, pinjaman peer-to-peer seperti Amartha dan TaniFund juga menawarkan akses kredit kepada petani, nelayan, dan pengusaha mikro yang selama ini umumnya belum tersentuh oleh institusi keuangan formal.

Meskipun model pinjaman ini dan inovasi lainnya terlihat menjanjikan, tetapi bukti ilmiah terkait dampak inovasi tersebut terhadap kesejahteraan masyarakat miskin masih minim.

Untuk memperluas jangkauan kebermanfaatan tekfin, kami membutuhkan lebih banyak bukti ilmiah terkait jenis-jenis tekfin yang dapat mempercepat inklusi keuangan dalam konteks peraturan, lingkungan bisnis, infrastruktur, dan demografi di Indonesia; mengapa jenis-jenis tekfin tertentu dapat menghasilkan dampak; dan bagaimana cara untuk meningkatkan dampak tersebut secara lebih luas.

Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, Inisiatif Inovasi Keuangan Inklusif ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap ekosistem keuangan digital Indonesia yang inklusif dan impact-driven. 

Informasi lebih lanjut, hubungi Aliyyah Rusdinar.

 

 

 

Posted by Aliyyah Rusdinar, Simone Schaner, Caroline Tangoren, and Samantha Carter.